Environment and Lingkungan GLOBAL

andbra.blogspot.com

About Me

Rekening BCA No. 2821100552 Bdg/Indonesia

and

Barclay Bank ,England

My Blogs

Team Members

Environment and Lingkungan GLOBAL

Friday, May 7, 2010

Calon Sekjen UNFCCC

andi BRATASIDA
Nasional
Rabu, 31/03/2010 20:53 WIB
KLH: Usulkan Calon Sekjen UNFCCC

Jakarta, (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)
Isi berita:
Sekjen Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC/United Nations Framework Convention on Climate Change).

MenLH Gusti Muhammad Hatta dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu, mengatakan pada awalnya KLH akan mengajukan Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Lingkungan Global dan Kerja Sama Internasional, Liana Bratasida untuk dicalonkan jadi Sekjen UNFCC.

"Tadinya kita mengirimkan ibu Liana. Tetapi dia datang kepada saya secara pribadi bahwa dia tidak sanggup karena ada penyakit jantung," kata Gusti.

Dia mengatakan sebenarnya Liana pantas untuk dicalonkan menjadi Sekjen UNFCCC karena mampu dan pernah menjabat sebagai ketua Subsidiary Body for Implementation (SBI) UNFCCC 2008-2009.

Sebelumnya, Liana Bratasida mengatakan dirinya telah bertemu dengan MenLH untuk menolak pencalonannya menjadi Sekjen UNFCCC.

"Saya sudah diminta menteri untuk mencalonkan diri tapi saya menolak karena saya tahu pekerjaan itu berat," katanya dalam suatu acara WWF.

Sedangkan Ketua Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim, Agus Purnomo, mengatakan, mundurnya Yvo De Boer memberi peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menjadi Sekjen UNFCCC.

"Pengunduran Yve De Boer dari jabatannya sebagai Executive Secretary UNFCC karena pindah kerja, memberi peluang bagi negara berkembang dan Indonesia untuk mengajukan nama dan dicalonkan menjadi Sekjen UNFCCC," kata Agus di Jakarta beberapa waktu lalu.

Tokoh-tokoh dari negara-negara berkembang, menurutnya, diyakini akan mampu untuk menjadi Sekjen UNFCCC. Tokoh itu bisa dari Asia, Afrika atau Amerika Latin, katanya.

Ia menjelaskan bahwa pengunduran Yvo De Boer pasca-KTT ke-15 Perubahan Iklim di Kopenhagen jelas mempunyai dampak besar karena saat ini sedang diupayakan adanya perjanjian yang mengikat (legally binding commitment) di Meksiko (COP 15) atau di Afrika Selatan (COP 16), sehingga bisa saja upaya itu bisa menjadi kendor,? katanya.

Tetapi Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim Indonesia (CSF) Giorgio Budi mengatakan, mundurnya Yve tidak akan memberikan pengaruh yang besar.

"Tidak ada pengaruhnya karena itu hanya proses organisatoris. Cuma tantangan ke depan bagaimana mencari orang yang lebih baik dari De Boer, apalagi dia mempunyai rekam jejak yang cukup positif," katanya.

Yvo de Boer mengepalai Konvensi Kerangka PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) selama ini menggawangi negosiasi negara-negara di dunia melalui serangkaian konferensi internasional dari Nairobi, Bali hingga Kopenhagen.

Pengunduran diri itu diumumkan Markas Besar PBB di New York, Kamis (18/2), dua bulan setelah Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, yang menghasilkan kesepakatan dunia tentang langkah-langkah yang akan dilakukan pascaberakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012. (*ant/news)

No comments:

Post a Comment

Thanks for the COMMENT.